Lila berdiri di belakang ayahnya, menatap langit yang kini memerah ke jingga tua. Ia tahu hidup tidak akan selalu halus seperti sutra; masih ada hari-hari suram, panen yang gagal, dan rindu yang tak pernah padam. Tetapi ia juga tahu bahwa warna—sebuah jingga—bisa menjadi pengingat, alat, dan semacam doa yang diikat dengan benang keluarga dan tetangga.
Pak Arif menarik napas panjang. Ia menutup mata sejenak, lalu membuka lagi. "Jingga... kau selalu suka warna itu," katanya pelan. "Dulu, ketika ibumu masih ada, ia menenun selendang berwarna jingga untuk menutup leherku ketika pulang dari ladang. Kau bahkan menyelipkannya di antara bibirmu saat tidur, bilang kau menyimpan matahari di sana."
"Aku hanya orang yang suka mengumpulkan warna-warna matahari," jawab pengembara itu sambil mengeluarkan gulungan kain kecil—selembar sutra pudar yang berpolakan jingga. "Kain ini berasal dari kota jauh. Saya berpikir, mungkin untuk Sandyakala, ini akan cocok." jingga untuk sandyakala pdf upd
Malam turun pelan, menelan garis-garis bukit. Lampu-lampu minyak dinyalakan di rumah-rumah; anak-anak berlari memanggil nama satu sama lain. Di gubuk, Lila dan Pak Arif selesai membuat selendang jingga—tidak sehalus yang dulu dibuat ibu, namun penuh dengan simpul dan jejak jemari.
Pak Arif menatap kain itu. "Mengapa kau memberiku ini?" tanyanya lirih. Lila berdiri di belakang ayahnya, menatap langit yang
Beberapa warga kampung yang lewat berhenti, melihat selendang jingga itu. Mereka teringat pada orang yang telah pergi, pada musim yang telah berganti. Seorang nenek menepuk pipi Lila, lalu menenun benang kecil lain ke dalam selendang—sebuah simbol bahwa kenangan tidak pernah benar-benar hilang selama ada yang mau mengingat dan merawatnya.
Akhir.
"Permisi," kata pria itu. "Saya mendengar ada yang ingin menenun kembali sesuatu yang hilang."